Beranda » Catatan Haji » Serial Catatan Haji Bersama Sahara Kafila : Pilar Taubat
Kafila International Islamic School

Entah sejak kapan pergulatan masuk menuju raudhah itu mesti berdesakan, meski begitu, semangat pengunjungnya tak pernah berkurang.

Saya sendiri entah sudah berapa kali memasuki area suci ini, tapi selalu tergetar setiap mendekati sebuah pilar yang berdiri gagah berdekatan dengan tiga pilar utama yang menyangga bangunan pusara sang nabi.

Pilar tersebut diberi nama Al Usthuwanah Abu Lubabah. disematkan kepada nama seorang sahabat Anshor yang kisah pertaubatannya selalu membuat saya merinding.

Abu Lubabah merasakan kegalauan iman karena pernah mencoba memberi jawaban berbeda atas tuntutan kepada tawanan perang yang akan dibunuh, ia menolak dan mengingatkan tawanan perang itu untuk menolak putusan tersebut.

Jelas, ia tak punya wewenang dalam putusan itu. ia merasa telah berbuat salah karena tidak sejalan dengan keputusan yang sang nabi telah memerintahkan Sa’ad bin Mu’adz sebagai pemutus perkara.

Kegalauan abu lubabah terus meresahkan hatinya, ia segera menuju masjid nabawi, mendekati salah satu pilar yang berhadapan dengan pilar sarir (tempat nabi bersandar istirahat). pada pilar itulah, Abu Lubabah mengikat dirinya dan menghukum dirinya tidak makan dan minum serta tidak keluar dari ikatan kecuali untuk melaksanakan sholat dan menunaikan hajat, sebelum pertaubatannya diterima oleh Allah.

Singkat cerita, lebih kurang sepekan peristiwa itu berlangsung, bahkan saat diwartakan bahwa taubat Abu Lubabah sudah diterima oleh Allah dan banyak sahabat hendak melepas ikatannya, ia mengatakan begini; “Tidak, demi Allah, aku tidak mau, hingga Rasulullah sendiri yang melepaskanku dengan tangannya”. tak lama kemudian Rasulullah datang dan melepas ikatannya.

Allāh….. 😭 sebegitunya Abu Lubabah menghukum dirinya lantaran rasa bersalah yang menghantui dirinya.

Ia melakukan apa yang disebut dengan mua’adzzabah (semacam tindakan menghukum diri akibat kesalahan yang dilakukannya).

Syech Muhammad Mutawalli Sya’rawi, seorang mufassir besar abad ini dari Mesir, dalam sebuah majelis tafsir menyampaikan pesan penting dari peristiwa taubatnya abu lubabah ini;

“Bahwa seorang mukmin bila dirundung kegalauan iman tidak diam menanti hukuman dari Allah, tetapi bersegera menyambutnya dengan menghukum dirinya sendiri, mereka malu menemui Allah dengan keadaan berdosa maka mereka mengambil jalan menghukum diri sendiri”.

Saya menceritakan kisah ini kepada beberapa jama’ah saat berada di antrian terdepan menjelang memasuki raudhah.

Seraya menunjukkan letak pilar taubatnya abu lubabah saya menceritakan peristiwa di atas.

Saya tak kuasa cerita banyak, karena merasa malu dengan abu lubabah. dosa dan kesalahan selama saya hidup teramat menumpuk.

Entah butuh berapa tiang dan berapa panjang tali bila saya meneladani jalan pertaubatan Abu Lubabah 😭

Semoga Allah mengampuni dosa saya dan kalian dan menghadiahkan kelembutan jiwa untuk gemar melaksanakan ibadah dan menggembirakan sesama.

Subhānakallāhumma Wa Bi hamdika Asyhadu Anlā ilāha Illā Anta Astaghfiruka Wa atūbu ilaik.

Ayah Enha

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.

Whatsapp