Beranda » Catatan Haji » Serial Catatan Haji Bersama Sahara Kafila : Napak Tilas Hijrah
Kafila International Islamic School

Ketika Nabi memasuki pintu Madinah, perempuan-perempuan kota itu berbaris untuk menyambutnya dengan suka cita sambil bernyanyi riang :

طَلَعَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا مِنْ ثَنِيَّةِ الْوَدَاعِ
وَجَبَ الشُّكْرُ عَلَيْنَا مَا دَعَا لِلَّهِ دَاعٍ

“O, Purnama telah hadir di tengah kita
Dari lembah, bukit Wada
Ayo kita berterima kasih pada Tuhan

Seorang laki-laki berteriak : “Hai Bani Qailah, ini orang yang kalian tunggu-tunggu telah datang. Ini kakek-moyangmu, talah datang” (Ya Bani Qailah Hadza Jaddukum Qad Jaa-a). Nabi dan Abu Bakar tetap di atas untanya. Wajah para penduduk sumringah, bersorak-sorai. Tetapi para penduduk Madinah itu bingung, mana di antara dua orang penunggang unta itu yang namanya Muhammad, karena dua orang itu hampir seusia. Abu Bakar membaca dengan cermat pikiran mereka. Ia segera memayungkan jubahnya di atas kepala Nabi. Nah, dengan itu mereka segera mengenal, siapa Muhammad, Nabi yang dinanti-nanti dengan penuh kerinduan itu. (Fa Qama Abu Bakar Fa azhallahu bi Rida-ihi. Fa’arafnahu ‘inda Dzalik).

Unta Nabi dan Abu Bakar terus melangkah pelan-pelan, diiringi rakyat Yatsrib yang menyambutnya dengan suka-cita, sambil terus bernyanyi Thala’a al-Badru, dengan riang. Mereka berteriak girang : “O, Nabi, marilah mampir ke rumahku”. “O, Rasulullah, mari singgah dan menginap di rumah kami”. “Wahai Nabi, kami telah menyiapkan kamar untukmu”. “Duhai rinduku, betapa bahagia kami jika engkau tinggal di rumah kami”. Nabi sambil tersenyum dan berterima kasih mengatakan kepada mereka: “Khallu sabilaha fa Innaha Ma’murah” (biarkan unta ini yang akan menjawab karena dia dibimbing Tuhan). Unta itu kemudian berhenti dan menurunkan lututnya di depan rumah Abu Ayub Al-Ansari, unta tersebut berhenti dan Abu Ayub sangat senang dan mempersilahkan Rasulullah untuk tinggal di rumahnya. Setelah beberapa waktu di rumah Abu Ayyub Al-Anshari, Rasulullah mendirikan masjid di atas sebidang tanah wakaf dari As’ad bin Zurrah dan anak yatim Sahal dan Suhail, anak Amir Bin Amarah yang diasuh oleh Muadz bin Atrah.

Saat mulai pembangunan masjid, Rasulullah meletakan batu pertama, diikuti dengan batu kedua, ketiga, dan keempat dibantu oleh Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Kemudian masjid tersebut dibangun bersama-sama dengan kaum Anshar dan kaum Muhajirin hingga selesai.

Beliau sendiri ikut bekerja. Sambil sibuk mencangkul atau mebuat bata, mereka berdo’a dalam nyanyian riang : La Aysya Illa ‘Aysya al-Akhirah, Allahumma Irham al-Anshar wa al-Muhajirah. (Tak ada kehidupan yang hakiki kecuali kehidupan di akhirat. Semoga Allah mengasihi kaum Anshar dan Muhajirin).

Sang Nabi kemudian mempertemukan dan menjalinkan persaudaraan antara para pendatang dari Makkah (Muhajirin) dengan para penduduk yang menolong mereka (al-Anshar). Tak lama kemudian Nabi juga mengganti nama yatsrib menjadi Al-Madinah al-Munawwarah (Kota peradaban yang bertabur cahaya).

Hampir sepuluh tahun Nabi di kota yang berpendar cahaya ini. Madinah menjadi pusat peradaban baru yang paling ideal. Ia menggantikan peradaban kuno tengah sekarat. Di kota ini nabi mendeklarasikan prinsip-prinsip Kemanusiaan, yang dikenal dengan sebutan : Madinah Charter atau Shahifah al-Madinah atau Watsiqah al-Madinah.

Ayah Enha

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.

Whatsapp