Beranda » Catatan Haji » Serial Catatan Haji Bersama Sahara Kafila : Mush’ab ibn ‘Umair
Kafila International Islamic School

Bila nama anak muda ini disebutkan, seluruh gadis mekkah terguncang hebat. Bila anak muda ini melintas, tak satupun mata gadis mekkah yg melewatkan untuk memandanginya. Ketampanannya, kekayaan keluarganya, kebaikan hatinya, kemerduan suaranya menjadi alasan banyak sekali gadis mekkah yg ingin menjadi istrinya.

Pemuda ini bernama Mush’ab bin ‘Umair, seorang anak orang kaya yg memilih Islam sebagai Jalan Hidupnya. Meskipun akhirnya hidup miskin sebagai tukang pengumpul kayu, Mush’ab tetap menjaga keimanannya, ia menolak bergabung dgn keluarganya yg memaksa dia kembali menjadi penyembah berhala.

Mush’ab itu sosok yg kuat integritasnya, atas keteguhan imannya, sang nabi mendoakan syurga untuk beliau. Keahliannya dlm berkomunikasi membuat sang nabi menunjuk mush’ab sbg Duta Islam ke Yatsrib, sebelum hijrah dilaksanakan. Ini strategi hebat sang nabi, memperkenalkan produk sebelum nyata masyarakat Yatsrib menyaksikan langsung tentang Islam. Diriwayatkan, ratusan orang yatsrib masuk Islam lewat lisan Mush’ab ini.

Pada saat perang uhud, beliau memegang panji2 perang dgn tangan kanan-nya, melihat semangatnya yg memotivasi pasukan muslim, Ibnu Qomiah tentara Quraisy melabraknya lalu menebasnya dengan pedang dan putus. Mush’ab mengalihkan tangan kirinya sebagai pemegang panji2. Ibnu Qomiah kembali menebasnya, tangan kiri Mush’ab pun putus mencium tanah. Ia mendekap panji2 itu dgn ujung bahu dan lehernya. Ibnu Qomiah kembali menebasnya dgn tombak, Mush’ab pun gugur sebagai Syahid.

Abu Rum, adiknya Mush’ab yg ikut menjadi muslim, tak dapat lagi menahan kesedihan melihat kesyahidan abangnya. Tangisannya memenuhi sekitar bukit Uhud. Ketika hendak dikafankan, tidak ada kain yang mencukupi untuk menutup mayat Mush’ab. Keadaan itu menyebabkan sang nabi tidak dapat menahan kesedihan hingga bercucuran air matanya. Keadaannya digambarkan dengan kata-kata yang sangat masyhur: Apabila ditarik ke atas, bagian kakinya terbuka. Apabila ditarik ke bawah, kepalanya terbuka. Akhirnya, kain itu digunakan untuk menutup bagian kepalanya dan kakinya ditutup dengan daun2 kayu.

Kini, saya dan jama’ah persis berdiri di hadapan maqbaroh Mush’ab, lisan lemah kami menuturkan salam; Assalamu’alaika ya Qâidal mukhtâr, Yaa mush’ab ibn ‘Umair

Kami
menangisi kesyahidan Mush’ab, siapa pemuda Islam kini yang setangguh beliau?

Ayah Enha
saya di depan pusara mush’ab di pelataran Uhud, siapa yg rindu ke sini?

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.

Whatsapp