Hotline 021-8403641
Informasi lebih lanjut?
Home » MAKNA IBADAH HAJI DAN UMRAH

MAKNA IBADAH HAJI DAN UMRAH

Haji dan umrah pada hakekatnya merupakan sebuah perjalanan spiritual untuk mendekatkan diri kepasa Sang Maha Pencipta Allah Swt. Bagi mereka yang melaksanakan ibadah Haji atau Umrah dengan betul-betul ikhlas, pasti disana akan mendapatkan pelajaran spiritual yang sarat makna. Ketika kita melihat Ka’bah atau melakukan thawaf seakan-akan kita tersihir dan terbawa ke dalam suasana yang sangat ukhrawi. Hati bergetar ketika pertama kali kita melihat Ka’bah, bangunan segi empat berbentuk kubus yang sungguh sangat berwibawa dan seakan mempunyai daya bagis bagi yang melihatnya. Bagi yang pertamakali melihatnya tentunya akan membatin ternyata inilah yang menjadi kiblat ketika bertahun-tahun semenjak kita kecil melaksanakan shalat.

Ketika kita melaksanakan thawaf dan berdesak-desakan dengan beribu-ribu jamaah lain dari segala penjuru dunia, timbul sebuah kesadaran betapa amat sangat kecilnya kita di hadapan Allah Swt. Sang creator alam semesta ini. Kita akan mendapat berbagai sukudan ras yang ada di dunia ini mengagungkan nama-Nya. Ada yang mempunyai perawakan tinggi besar dengan kulit amat hitam seperti bangsa negro, ada yang bermata biru dan berkulit putih seperti halnya bangsa-bangsa dari asia tengah, ada yang berperawakan sedang dengan kulit sawo matang sebagaimana jamaah yang berasal dari melayu dan masih banyak lagi ras-ras lain dengan berbagai ciri dan bentuk tubuh yang berbeda satu dengan lainnya. Semuanya mengumandangkan Asma Allah sambil mengelilingi bangunan yang berbalut kain hitam dan berdiri dengan kokohnya itu. Subhanallah.

Selanjutnya ketika kita melakukan sa’I yang juga menjadi rukun dalam ibadah haji dan umroh, kita pun akan mendapati bahwa semuanya melantunkan doa-doa dan mengagungkan nama-nama Allah. Hati terasa sangat damai dan merasa terharu melihat hal ini. Dan begitupun selanjutnya dengan ritual-ritual lain, semuanya akan membuat kita merasa amat sangat kecil di hadapan Allah Swt. Betapa selama ini kita sudah merasa paling benar sendiri ketika kita berada di lingkungan kita, merasa paling gagah sendiri, merasa paling sempurna dan rasa-rasa kesombongan yang lainnya, yang ternyata ketika kita di tanah haram, semuanya tidak ada artinya, sungguh kita selama ini berada dalam perasaan yang semu. Astagfirullah.

Demikian itulah sebenarnya hakikat ibadah haji atau umrah yang kita lakukan. Kita akan menyaksikan dengan mata kepalasendiri keagungan Allah dan kebenaran akan ajaran Nabi Muhammad Saw. Sehingga sudah semestinya ketika kita pulang dari tanah suci kita menjadi akan menjadi manusia yang lebih berkualitas dibanding sebelum kita melakukan ibadah haji atau umrah.

Dalam tulisan ini saya akan berbagi kepada saudaraku semua, untuk lebih mendalami makna-makna yang terkandung dalam proses ibadah haji atau umrah yang kita lakukan.

Pelaksanaan ibadah haji dan umrah membutuhkan persiapan matang, mulai dari fisik, mental, sampai materi. Jadi sesungguhnya dalam melaksanakan haji dan umrah kita tidak boleh main-main mengingat beratnya persiapan tersebut. Insya Allah dengan niat yang ikhlas atas dasar keimanan, kecintaan dan syukur kepada Allah semuanya akan sangat mudah untuk dilalui, Amin.

Lalu apakah haji dan umrah itu sebenarnya? Apakah hanya sekedar “jalan-jalan” ke Baitullah? Atau ada makna lain yang tersembunyi. Sesungguhnya ada dua dimensi dalam pelaksanaan haji dan umrah, yaitu: dimensi vertikal (hablumminallah) dan dimensi horizontal (hablumminannas). Haji dan umrah, jika kita lihat dari tata cara pelaksanaannya, merupakan suatu rangkaian pengulangan sejarah dari tiga anak manusia mulia dalam upaya mereka mencapai Tauhid. Mereka itu adalah Nabi Ibrahim as, Nabi Ismail as, dan Siti Hajar (istri kedua Nabi Ibrahim as dan ibunda Nabi Ismail as). Sekarang penyusun akan mencoba menjelaskan arti penting dari perjalanan ibadah haji dan umrah yang kita lakukan.

          a.  MAKNA MIQAT

Miqat, secara harfiah berarti bays. Pemahaman Makna Miqat dalam prosesi haji atau umrah ini sangat menarik. Sejak awal mendaftar haji atau umrah, setiap jamaah telah mempersiapkan diri dalam rangka memenuhi panggilan Allah. Ditaqdirkan-Nya kita hidup di dunia ini sejatinya adalah perjalanan menuju panggilan-Nya, yang dibatasi oleh waktu yaitu sebasar umur hidup kita dan ruang sebatas bumi kita berpijak. Dalam batasan waktu dan ruang inilah Allah memberi petunjuk, pedoman hidup agar dalam menapaki waktu dan tempat, hidup tidak sia-sia dan sesat. Petunjuk itu tergambar dalam prosesi haji yang akan dibahas berikutnya.

           b.  MAKNA IHRAM

Sebelumnya, pernahkah kita bertanya mengapa di wajibkan memakai pakaian ihram pada waktu haji dan umrah? Lalu mengapa pakaian ihram tersebut tidak boleh dijahit? Mengapa harus berwarna putih dan terbuat dari bahan yang sama? Untukmenjawab pertanyaan tersebut, maka kita harus merunjuk kepada firman Allah Swt. Yang menyatakan bahwa sesungguhnya manusia di ciptakan dengan status yang sama yakni sebagai khalifah di bumi.

Saat memakai ihram, maka manusia dibebaskan dari status-status yang bersifat duniawi. Kita tidak akan pernah tahu siapa saja yang sedang berhaji atau umrah saat itu. Mungkinada pengusaha, artis, atau mungkin pejabat. Ketika kita berhaji atau umrah, satu-satunya yang melekat pada diri kita adalah sebagai hamba Allah Swt. Tidak lebih!

Makna lain yang terkandung dalam pemakaian pakaian ihram adalah sesungguhnya kita menghadap Allah Swt. Dalam ketelanjangan. Itu sebabnya kita dilarang menjahit pakaian ihram. Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa kita dating menghadap Allah Swt dalam ketelanjangan? Sebenarnya hal tersebut merupakan perumpamaan dimana kita diminta untuk menghadap Allah Swt. Dengan apa adanya, tidak terjebak oleh materi duniawi, seperti pakaian sehari-hari yang dapat melekatkan kita kepada status di tengah masyarakat.

Selain itu, pernahkah kita menyadari bahwa dengan memakai pakaian ihram, sesungguhnya kita diingatkan bahwa kehiduplan di dunia ini tidaklah abadi, meainkan hanya sendagurau belaka. Dalam hal ini, pakaian ihram dianoligakan sebagai kain kafan yang setiap saat dapat membalut tubuh kita. Untuk itu, kita harus menyadari benar konsep innalillahi wa innailaihi raji’un yang mengandung arti bahwa kita semua adalah makhluk ciptaan Allah Swt.dan kepada-Nyalah kita akan kembali.

Pemaparan diatas merupakan makna dari ihram apabila ditinjau dari dimensi yang pertama, yaitu dimensi vertikal. Lalu apakah makna Ibrahim apabila dilihat dari dimensi horizontal? Sesungguhnya, makna yang terkandung sangatlah sederhana yaitu kita diminta menanggalkan segala kepalsuan dan diminta untuk senantiasa bertindak apa adanya. Salah satu budaya negatif dari masyarakat Indonesia yang mengandung unsur kepalsuan tersebut adalah budaya hipokrit (munafik) atau mungkin kita lebih mengenalnya dalam kalimat Asal Bapak Senang (ABS). hipokrit merupakan salah satu sikap dimana kita melegalkan kedustaan demi tercapainya keinginan pribadi. Sebagai contoh, kita sering mendengar seseorang memuji atasannya demi kenaikan pangkat, bukan karena atasannya memang layak dipuji karena kepribadiannya ataupun etos kerjanya.

Pakaian ihram menyimbolkan egalitarianism bahwa manusia tidak di pandang dari pangkat dan kedudukannya, melainkan kadar taqwanya. Manusia dituntut untuk senantiasa bersikap wajar dan tidak berlebihan dalam hidup ini. Dengan pakaian jauh dari model pakaian modern, menggunakan pakaian yang sederhana, tanpa membedakan status sosial, mengindikasikan bahwa dalam hidup ini kita jangan terjebak dalam egoisme kehidupan.

Warna pakaian ihram yang putih melambangkan kesucian. Artinya, seorang muslim ketika akan dating ke dunia dalam keadaan suci, setelah manusia diberikan nafsu kesucian itu dinodai dengan syirik, kufur dan dosa lainnya. Noda-noda tersebut wajib dibersihkan sebelum kematian menjemput. Di samping itu, dengan memakai pakaian ihram kita disadarkan untuk melepaskan diri dari kesombongan, klaim superioritas, maupun ketidaksamaan derajat atas manusia yang lain. Oleh karena itu, kita diharuskan agar senantiasa berbuat baik dan mengedepankan sikap saling menghormati. Apabila hal ini dapat terwujud, maka cita-cita akan perdamaian, toleransi, ataupun kerukunan masyarakat akan lebih mudah untuk direalisasikan, Amin Ya Rabbal Alamin.

Kesimpulannya bahwa ketika para jamaah haji dan umrah menginjakkan kaki di bumi kelahirannya kembali, dalam hidup barunya itu tidak lagi membedakan status sosial ekonomi dan menghilangkan psikologis negatifnya, menjaga kesucian lahir batinnya dan senantiasa mengingat akan kematian. Semangat ihram melalui sikap hidup kita diantaranya melepaskan atribut-atribut kekayaan dan jauh dari kesan keangkuhan diri, merasakan betapa indah hidup ini dengan persaudaraan. Saling bantu-membantu antar sesama dapat menciptakan (keseimbangan hidup), persatuan dan kesatuan.

Maka, jika sekembalinya dari tanah suci, masih ada keangkuhan dalam diri, masih adanya pandangan perbedaan derajat kemanusiaan, masih menindas orang lain, sesungguhnya kita belum bisa menanggalkan “pakaian biasa” , belum berihram yang berarti belum “berhaji/umrah”.

          c.  MAKNA THAWAF

Thawaf merupakan rangkaian dari ibadah haji dimana kita diharuskan mengelilingi ka’bah sebanyak 7 kali putaran. Pada hakikatnya, thawaf dapat diartikan sebagai tindakan meniru perilaku alam semesta yang senantiasa “berdzikir” kepada Allah Swt. Melalui pelajaran ilmu pengetahuan alam, kita dapat mengetahui bahwa sesungguhnya benda-benda alam senantiasa bergerak. Gunung yang besar dan kukuh ternyata bergerak atau bergeser, bulan bergerak dengan mengelilingi bumi, bumi bergerak dengan mengelilingi matahari, dan matahari pun bergerak mengelilingi pusat dari gugusan-gugusan bintang yaitu galaksi bimasakti atau yang kita kenal dengan sebutan blackhole.

Inilah makna thawaf dalam dimensi vertikal, yaitu penegasan bahwa sesungguhnya kita merupakan bagian dari alam semesta yang tunduk dan patuh kepada sang pencipta serta dan diharuskan untuk senantiasa mengingatnya, yakni berdzikir kepadanya.

Dalam dimensi horizontal, kita diminta senantiasa hidup dengan penuh keteraturan seperti keteraturan gerak benda-benda alam raya. Bayangkan, apabila gerakan yang dilakukan oleh benda-benda tersebut tidak teratur, tentunya akan mengakibatkan chaos (suatu keadaan dengan penuh ketidakteraturan) yang tentunya dapat membawa kehancuran. Sama halnya dengan benda-benda alam tersebut,manusia juga dapat mengalami kehancuran apabila tidak hidup dalam keteraturan karena dapat memicu konflik. Keseimbangan hidup, itulah kunci agar kita dapat hidup dalam keteraturan, ingat, alam raya diciptakan juga atas dasar konsep keseimbangan (QS Ar-Rahman [55]: 7-9).

Selain soal keteraturan, dalam melaksanakan thawaf kita juga diingatkan bahwa sesungguhnya kehidupan setiap manusia senantiasa berputar. Mungkin hari ini kita berada dalam kebahagiaan, tetapi mungkin esok kita hidup dalam kesusahan. Sesungguhnya semua itu merupakan cobaan dari Allah Swt. yang ingin menguji sampai sejauh mana tingkat keimanan kita.

Dalam rangkaian ibadah haji/umrah, thawaf adalah mengelilingi ka’bah sebanyak 7 kali putaran, dimullai dari posisi hajar aswad. Terdapat korelasi, bahkan pesan moral spiritual yang sangat kuat, antara thawaf dan kehidupan kita sehari-hari.

Bisa dikatakan, thawaf yang lebih berat dan eksistensial itu adalah melaksanakan thawaf dalam kehidupan nyata ini. Thawaf dalam rangkaian ibadah haji dan umrah mengenakan pakaian khusus, takubah nya kain kafan pembungkus jenazah. Baik pakaian, gerakan, maupun suasana pikiran serta hati dalam adegan thawaf mengajak seseorang untuk selalu sadar, hidup ini sebuah perjuangan dan pencarian jati diri serta terminal akhir kemana kita semua akan berpulang.

Sebelum ajal tiba, lewat thawaf kita dilatih agar tidak terpenjara dalam kurungan kebanggaan harta, jabatan, dan rupa. Semuanya kita lepaskan lalu berputar mengelilingi ka’bah, tetapi bukan menyembah ka’bah. Thawaf mengelilingi ka’bah sebanyak 7 putaran, jumlah bilangan simbolik yang kaya makna dan tafsiran.

Mengamati dan merenungkan orang masuk dan keluar barisan thawaf mengingatkan kita pada kehadiran dan kepergian anak manusia diatas bumi. Kelahiran dan kematian selalu terjadi setiap menit. Nalar manusia tidak sanggup menjawab, dimana roh seseorang sebelum lahir dan kemana setelah mati. Berthawaf adalah perenungan, pencarian, dan penegasan diri bahwa kita semua berasal dari Allah Swt, dan akan kembali kepada-Nya.

Ketika berthawaf sekeliling ka’bah seakan satu kaki sudah melangkah kealam akhirat. Secara fisik kita berada di serambi baitullah, rumah Allah, namun bukan bangunan fisik itu terminal akhir perjalanan hidup ini. Ka’bah yang berbentuk kubus, berwarna hitam, sangat sederhana desainnya, di dalamnya pun kosong. Yang dicari dan dirindukan adalah Allah Swt, pemilik Ka’bah.

Thawaf sesungguhnya memiliki pesan agar seseorang melakukan pembebasan diri dari perbudakan dan penindisan pemilau dunia. Dunia mesti dikejar untuk ditaklukan agar melayani kita untuk membangun kehidupan yang produktif dan bermakna. Dari pagi bangun tidur sampai mau tidur lagi kita semua melakukan thawaf.

Berputar-putar menjalani aktivitas dengan ragam kegiatan ada orang yang aktivitasnya rutin miskin variasi. Ada yang hidup dari rapat ke rapat. Ada yang dari panggung ke panggung. Ada yang setiap hari berjumpa dengan belasan atau bahkan puluhan orang. Ada yang hidupnya banyak tawa dan canda. Ada yang sebaliknya,setiap hari selalu marah-marah.

Untuk apa dan siapa semuanya itu kita lakukan? Apakah kehadiran dan aktivitas kita memberi nilai tambah dan nilai guna pada sesama? Atau malah merugikan dan mencelakakan diri sendiri dan orang lain?

Putaran roda hidup yang kita jalani jangan sampai leps dari kesadaran dan kedekatan dengan pusat dan pemilik hidup itu sendiri, yaitu Allah pemilik semesta. Kita boleh berdesak-desakan. Tapi hati mesti tulus, saling menghargai. Tak ada yang menjegal atau mengumpat karena akan merusak nilai thawafnya dan wajib membayar dam.

Kemuliaan hidup akan rusak oleh perilaku kita yang tidak menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Jadi, apa yang dilarang oleh nurani, akal sehat, norma agama, sesungguhnya bertujuan agar martabat kehidupan terjaga.

Motto dan doktrin bahwa agama adalah rahmat bagi alam semesta mesti diterjemahkan dalam karya nyata agar apa yang kita jalani dan raih dalam thawaf kehidupan ini memberikan manfaat bagi orang lain, bukannya malah merusak, merugikan dan membuat orang lain merasa terancam. Setiap hari berapa puluh keputusan kita buat. Berapa ribu kata kita ucapkan.

Berapa kilometer kaki kita melangkah. Dan setiap malam sebelum tidur,mengakhiri thawaf hari ini, sebaiknya kita merenung, introspeksi, pembajikan apa yang akan lakukan untuk diri kita, keluarga kita, dan masyarakat kita.

           d.  MAKNA SA’I

Setelah berthawaf, maka kita diminta melakukan sa’i, yaitu berlari lari kecil antara bukit shafa dan marwah. Kata sa’i secara bahasa dapat diartikan sebagai usaha atau berjuang. Agar lebih mudah memahami sa’i, maka ada baiknya kita kembali mengingat peristiwa sewaktu Nabi Ibrahim as meninggalkan anaknya, Nabi Ismail as, beserta istrinya, Siti Hajar disuatu lahan tandus yang sekarang ini kita kenal dengan nama Mekkah. Kecintaan dan keikhlasan kepada Allah Swt. adalah wujud dari dimensi vertikal yang dapat kita ambil sebagai pelajaran. Mungkinkah kita meninggalkan istri dan anak kita yang baru lahir di sebuah lahan tandus dan tidak berpenghuni? Adakah alasan lain untuk melakukan hal tersebut selain dari wujud kecintaan dan keikhlasan kita kepada Allah Swt. tuhan sekalian alam? Sesungguhnya ini adalah wujud konkrit dari apa yang kita sebut dengan tauhid.

Keikhlasan Nabi Ibrahim as meninggalkan istri dan anaknya dan keikhlasana Siti Hajar untuk ditinggalkan suami tercinta, karena semata-mata perintah Allah Swt. merupakan suatu hal yang dapat kita jadikan pelajaran. Apalagi pada masa yang sekarang ini saat kita sudah melalaikan perintah Allah Swt. bahkan yang sederhana seperti menjaga kebersihan sampai yang wajib seperti sholat, karena hal-hal yang bersifat duniawi.

Wahai anak-anak Adam masihkah engkau menyadari bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanya senda-gurau belaka, dan sesungguhnya akhirat itu merupakan kehidupan yang sebenarnya?! Jangan lah pernah bergantung kepada suatu hal yang hanya sesaat, tetapi bergantunglah kepada sesuatu yang abadi, yaitu Allah Swt. mengapa demikian? Karena sesungguhnya bergantung kepada sesuatu yang sesaat merupakan suatu kesia-siaan.

Dalam dimensi horizontal sa’i, merupakan wujud dari kasih sayang ibu kepada anaknya. Diceritakan bahwa ketika Siti Hajar ditinggalkan, ia memiliki cukup persiapan air. Tetapi, ketika persediaan itu mulai berkurang, rasa panic mulai menghinggapi dirinya dan ia pun segera berlari-lari dari bukit shafa ke bukit marwah untuk mencari air. Ketika ia mulai lelah karena tidak menemukan air, tiba-tiba ia tercengang ketika melihat air yang memancar dari bawah padang pasir. Kemudian secara spontan ia seakan berbicara kepada air yang memncar itu agar berkumpul karena takut air itu akan kembali ke dalam pasir. Air inilah yang kini kita kenal dengan istilah air zam-zam yang berasal dari bahasa Ibrani yang berarti “kumpullah-kumpullah’.

Sa’I mengisyaratkan makna perjuangan hidup pantang menyerah. Hidup harus dihidupi dengan usaha keras dalam menghadapi berbagai tantangan dan menghadapinya dengan penuh kesabaran, keuletan, dan ketakwaan kepada Allah Swt. inilah sebagian makna yang digambarkan sa’I dengan mendaki dan menuruni bukit Shafa dan  Marwah.

Terkadang diperlukan kegigihan untuk meraih sesuatu yang sulit dan terkadang mengalir begitu saja untuk mendapatkan esuatu yang kita inginkan atau terkadang naik mencapai puncak kesuksesan dalam berusaha dan terkadang meluncur turun mengalami kegagalan. Inilah realitas kehidupan yang digambarkan dengan naik-turun bukit Shafa dan Marwah. Juga terkadang harus bertindak cepat dalam meraih sesuatu, sebagaimana digambarkan dalam syariat sa’I ketika sampai diantara dua pilar hijau disunahkan berlari-lari kecil.

Di tengah usaha yang kita lakukan, sangat pentig adalah tidak melupakan Allah Swt. Berada di puncak Shafa dan Marwah memberikan makna bahwa bagaimana pun tingginya puncak kesuksean yang diperoleh, tetaplah hadapkan wajah kita kepada Allah Swt. yang disimbolkan dengan menghadapkan wajah ke Ka’bah ketika berada di Shafa dan marwah. Demikian pula betapapun derita dan kegagalan yang dialami hendaknya jangan lupa berserah diri kepada Allah Swt. Inilah makna mendaki dan menuruni bukit Shafa dan Marwah. Hidup ini bergatian bahagia dan derita atas syukur dan sabar.

Juga ada pelajaran penting yang tersirat dalam kisah perjuangan Siti Hajar dalam mencari ‘sesuatu’ untuk hidup bersama putranya Ismail yaitu, betapa gigihnya Siti Hajar berjuang hingga bolak-balik bukit Shafa dan Marwah, tapi Allah tidak memenuhinya di tempat dan pada saat dimana dia mencari, tapi justru dipenuhi di waktu dan tempat lain yang tidak terduga dan seolah muncul bukan karena usahanya. Ini pelajaran dari Sang khalik kepada makhluk-Nya yang sungguh luar biasa bahwa sejatinya manusia hanyalah berikhtiar secara gigih dan Allah Swt. yang akan memenuhi apa yang kita butuhkan dengan cara-Nya yang kita tidak tahu waktu dan jalan-Nya.

Menghayati dan meserapi syariat sa’I dan kisah Siti Hajar bersama Ismail akan memunculkan dalam diri kita sikap-sikap positif dalam menghadapi berbagai tantangan yang terjadi, antara lain: gigih, sabar, istiqamah, disiplin, ikhlas, optimis,syukur dan sebagainya, juga terjaga sikap-sikap negative seperti: sombong, congkak, takabur dan sebagainya, karena sejatinya hanya Allah yang dapat memenuhi apapun yang kita butuhkan pada waktu dan jalan yang tepat. Dengan demikian pelajaran dari syariat sa’I dan kisah Siti hajar bersama Ismail harus terud-menerus berkobar dihati agar selalu terbangun sikap-sikap positif dan terhindar dari sikap-sikap negative diatas.

          e.  MAKNA TAHALUL

Dalam konteks sosial, tahalul mengandung makna pembersihan diri, penghapusan cara-cara berfikir yang negative. Layaknya semua peristiwa, ibadah haji dan umrah pun memiliki awal dan akhir. Bila mengenakan pakaian ihram dari miqat adalah momentum untuk mengawali ibadah ini, maka tahalul adalah mengakhiri ihram yang ditandai mencukur rambut. Sesudah tahallul dan segala rukun serta wajib haji dan umrah disempurnakan, maka hendaklah setiap jamaah haji bermohon kepada Allah Swt. agar menerima haji dan umrah mereka. Melalui tahalul, Allah mengajarkan bahwa manusi tetaplah manusia. Ia harus sadar bahwa selamanya dirinya adalah hamba Allah. Manusia harus bersikap khusyuk, tawadhu (rendah hati), dan khudhu. Tiga sikap itu akan mengantarkan mereka menjadi makhluk yang dicintai oleh Allah Swt.

Tahalul artinya membebaskan diri dari segala larangan saat berihram. Apabila manusia bertaubat, melakukan ketaatan melalui ibadah haji atau umrah mengenali hakikat diri, maka jadilah manusia itu seperti bayi yang baru dilahirkan dan bersih dari segala dosa.

Dalam konteks sosial tahalul mempunyai makna pembersihan diri, penghapusan cara-cara berfikir yang negatif. Karena itu, jamaah haji atau umrah yang telah bertahalul mestinya memiliki cara berfikir dan pandangan hidup yang bersih, baik serta tidak menyimpang dari etika dan norma sosial maupun agama. Jamaah haji dan umrah yang berhasil mengubah pola pikir, sikap dan perilakunya tentu akan mendatangkan manfaat bagi masyarakat dan orang lain.

Rambut adalah salah satu symbol dari mahkota keindahan seorang, rambut adalah perhiasan seseorang dan menjadi lambing kegagahan dan ketampanan. Bertahallul yaitu mencukur rambut adalah symbol dari meletkkan mahkota seseorang. Artinya, orang tersebut menanggalkan kesombongan yang menjadi seseorang tinggi hati dari orang lain. Semoga dengan hilangnya semua rambut dikepala jamaah ketika ia bertahallul, maka hilang juga segala mcam sifat keangkuhan dan kesombongannya yang akan menjadikannya haji yang tawadlu’ dan rendah diri.

Muslim yang telah melaksanakan ibadah haji atau umrah namun tetap memiliki sifat dan perilaku tercela, maka dapat dikatakan dia adalah jamaah yang merugi. Orang seperti ini tidak mendapatkan makna yang paling esensial dari ibdah haji atau umrahnya. “karena haji dan umrah itu sesungguhnya di peruntukkan bagi sesame manusia dengan cara selalu menjaga, menghormati, menghargai serta saling menjunjung tinggi martabat manusia”.

          f.  MAKNA WUQUF

Konon, saat Nabi Adam as. Diturunkan ke bumi, beliau terpisah dengan istrinya yaitu Siti Hawa, kemudian Allah Swt. mempertemukan mereka kembali di Jabal Rahmah Arafah. Oleh karena itu, ada semacam anggapan bahwa Jabal Rahmah adalah Bukit Jodoh, apabila seseorang berada di bukit tersebut untuk mendapatkan jodoh, konon dia akan mendapatkan jodoh. Tetapi, sesungguhnya itu semua tidak lagi dari sekedar mitos semata.

Rasulullah Saw pernah bersabda bahwa haji itu adalah Arafah (HR. al-Bukhari), maksudnya adalah bahwa tidak akan diterima haji seseorang apabila ia tidak melaksanakan wuquf di Arafah. Lalu pertanyaannya adalah apa yang sesungguhnya menyebabkan wuquf di Arafah sangat penting? Hal itu disebabkan karena ketika sedang melakukan wuquf, Nabi Muhammad Saw. Mendapat waktu terakhir yang menyatakan bahwa Allah Swt telah meridhai islam sebagai agama umat manusia. Selain itu, nabi juga pernah menyampaikan khuthbatul wada’ (khutbah perpisahan) yaitu khutbah terakhir Nabi sebelum meninggal dunia beberapa bulan kemudian.

Dalam khutbah tersebut ada beberapa hal penting yang perlu dihayati, khutbah tersebut dibuka oleh Nabi dengan pertanyaan: “wahai sekalian umat manusia, tahukah kamu dalam bulan apa kamu ini, di hari apa kamu ini, dan di negeri apa kamu ini?” Kemudian para hadirin menjawab: “kita semuanya ada dalam hal yang suci, bulan yang suci, dan di tanah yang suci.”

Mendengar jawaban tersebut, Nabi melanjutkan khutbahnya: “oleh karena itu, ingatlah bahwa hidupmu, hartamu, dan kehormatanmu itu suci, seperti sucinya harimu ini, dan bulanmu ini, dinegeri yang suci ini, sampai kamu dating menghadap Tuhan: “Sejenak Nabi terdiam, tetapi kemudian berkata lagi: “Sekarang dengarkan aku, dengarkanlah aku, maka kamu akan hidup tenang; ingatlah kamu tidak boleh menindas orang, tidak boleh berbuat zhalim kepada orang lain, dan tidak boleh mengambil harta orang lain.”

Dari penjelasan di atas, makna wuquf dari dimensi vertikal adalah kembali sucinya kita di mata Allah Swt. tetapi sucinya diri kita harus selalui disertai makna horizontal wuquf, yaitu dimana kita harus senantiasa menghargai dan menghormati orang lain dengan cara tidak menindas, tidak berbuat zhalim, dan tidak mengambil harta orang lain.

          g.  MAKNA KURBAN

Ibadah haji dan kurban bukanlah semata-mata rangkaian ritual yang berdimensi spiritual semata, akan tetapi merupakan ibadah yang menempa diri seseorang muslim yang sempurna keislaman dan aqidahnya yaitu muslim yang benar aqidahnya, benar ibadahnya serta berakhlak mulia, kurban juga mengajarkan kita untuk rela mengorbankan sebagaian harta kita di jalan Allah dengan cara mengeluarkan zakat, infaq, dan shadaqah, serta tidak tamak, rakus dan serakah. Kurban mendidik kita untukpeduli dan mengasah sikap social. Seseorang tidak pantas kenyang sendirian dan bertaburan harta, sementara banyak orang disekitarnya yang membutuhkan bantuan dan uluran tangan.

Kurban juga mendidik kita untuk membunuh sifat-sifat kebinatangan. Dan di antara sifat kebinatangan yang harus kita kubur dalam-dalam adalah sikap mau menang sendiri, merasa benar sendiri dan berbuat sesuatu dengan bimbingan hawa nafsu. Manusia adalah makhluk yang sempurna dan utama. Akan tetapi, jika sikap dan perilakunya dikuasai oleh nafsu, maka pendengaran, penglihatan, dan hati nuraninya tidak akan berfungsi. Jika sudah demikian, maka manusia akan jatuh derajatnya, bahkan lebih rendah dari binatang.

Kurban juga usaha kita untuk mendekatkan diri pada Allah, mematuhi dengan segala daya dan upaya semua yang di perintahkan dan dengan sekuat tenaga menjauhi larangan-Nya. Begitu juga dengan ibadah haji, yang merupakan napas tilak perjalanan Nabi Ibrahim beserta keluarganya. Sebagaimana ibadah-ibadah lain, ibadah haji bukanlah ibadah formal yang hanya diukur dari pelaksanaannya semata, di samping nilai ubudiyah dan spiritualnya, ibadah hajijuga merupakan sarana membentuk pribadi yang taat, tunduk, patuh, dan rela diatur undang-undang Allah, berakhlak mulia dan kepribadian luhur.

Ukuran ketaqwaan seseorang tidak hanya dilihat dari kualitas ibadahnya semata, tetapi yang sangat penting adalah aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Maka tidaklah berlebihan jika Rasulullah menyatakan, “Dan tidak ada pahala lain bagi haji yang mabrur kecuali surga,” Amin Ya Rabbal Alamin.

 

KESIMPULAN

Dari uraian diatas, saya menyimpulkan bahwa sesungguhnya dalam pelaksanaan ibadah haji atau umrah, nilai-nilai kemanusiaan sangat dikedepankan. Jika kita memerhatikan ayat-ayat yang terdapat di dalam al-quran yang membahas masalah haji, maka semua ayat-ayat tersebut menekankan kepada kemaslahatan dan prikemanusiaan. Bahkan, khutbah terakhir nabi di Arafah dapat dikatakan sebagai pidato (khutbah) pertama yang mengangkat tema Hak Asasi Manusia (HAM) yang sekarang ini sedang banyak dibicarakan oleh kalangan Barat.

Oleh sebab itu, jika kita berbicara tentang haji mabrur atau umrah makbul, maka yang dimaksud adalah bagaimana kita dapat mewujudkan makna ibadah haji dan umrah tersebut dalam solidaritas social.

Ada suatu kisah yang menarik yang dapat memberi gambaran mengenaihal ini. Alkisah, ada sepasang suami-istri yang sederhana, tetapi bertekad menunaikan haji. Untuk mewujudkan tekad tersebut, mereka bekerja keras dan bersusah-payah, hasil yang mereka peroleh kemudian mereka tabung.

Setelah bertahun-tahun menabung, akhirnya tabungan mereka telah cukup untuk bekal perjalanan. Mereka pun akhirnya berhaji. Tetapi, sebelum sampai ke Mekah, mereka melewati sebuah kampong yang rata-rata penduduknya sangat miskin. Mereka melihat banyak anak-anak yang menderita busung lapar; mereka juga melihat anak-anak yang tidak berpakaian. Suami-istri itu iba. Mereka berpikir bahwa naik haji memang merupakan perintah tuhan, tetapi itu hanya dinikmati oleh mereka berdua. Padahal, di depan mereka sedang terlihat pemandangan yang mengenaskan. Mereka kemudian berpikir, “Bukanlah lebih baik apabila bekal kita di berikan kepada mereka yang lebih membutuhkan?”

Akhirnya mereka berdua sepakat memberikan tabungan mereka selama bertahun-tahun itu kepada penduduk kampung tersebut. Mereka pun batal berhaji. Namun, ketika sampai dirumah, ada seseorang, yang mereka tidak kenal sama sekali, yang menyambut mereka dengan ucapan: “Selamat dating dari haji mabrur wahai hamba Allahyang mulia.”

Mendengar ucapan tersebut, mereka sama sekali tidak mengerti. Mereka pun menjelaskan bahwa mereka tidak jadi berhaji. Tetapi, orang tersebut menjelaskan bahwa apa yang mereka lakukan di perjalanan itulah yang sesungguhnya disebut haji mambrur. Setelah berkata demikian, orang tersebut kemudian menghilang. Dalam riwayat, orang tersebut adalah malaikat yang diserupakan dengan manusia oleh Allah Swt.

Darikisah di atas, kita dapat mengambil substansi sesungguhnya dari apa yang disebut dengan haji dan umrah mabrur, yang ternyata dapat diperoleh tanpa melakukan ibadah haji secara formal. Kini marilah kita renungkan sindiran dari guru kita, Buya Hamka (Alm) kepada mereka yang baru pulang dari Tanah Suci dengan pertanyaan: “apakah ada oleh-oleh lain yang kau bawa selain air zam-zam?”

Tentu kita dapat memahami bahwa “oleh-oleh” yang dimaksud disini adalah haji mabrur. Semoga saudara-saudara kita yang kini sedang berhaji dapat menjadi hajimabrur, dalam makna yang sesungguhnya. Last but not least, sungguh percuma bagi mereka yang berhaji atau berumrah apabila tidak dapat menanamkan nilai-nilai kemanuasiaan dalam kehidupan sehari-hari.

Akhirnya mari kita berdoa dengan ketulusan jiwa dan hati kita, semoga kita semua jamaah haji dan umrah dapat melaksanakan prosesi ibadah haji dan umrah dengan sebaik-baiknya, dan meraih haji mabrur atau umrah makbul yang diterima Allah, haji yang berkualitas yang tidak ada lain balasannya, kecuali surganya Allah Swt. Aamiin Ya RAbbal Alamin.

Kantor Kami

Komplek Kafila Business Center

Jl. Raya Bogor Km. 21 No. 1 – 2 Kel. Rambutan Kec. Ciracas – Jakarta Timur

Telp. 021-8403641

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.